Muzima Cafe Muzium Negara

 Muzima Cafe: Oase Rasa di Sisi Sejarah

Terletak di perkarangan Muzium Negara, NI Muzima Cafe menawarkan kontras yang menarik. Di satu sisi, Anda diselimuti oleh aura tenang dan keagungan sejarah museum; di sisi lain, Anda disambut oleh semarak hidangan lokal yang menggugah selera. Konsepnya sederhana namun efektif: menyediakan makanan ala Melayu/Nusantara yang otentik dan memuaskan bagi para pengunjung yang lapar setelah berkeliling museum, atau sekadar mencari hidangan rumahan di tengah hiruk pikuk kota.

Impresi Awal: Hangat dan Meriah

Melangkah masuk, Anda akan merasakan suasana yang santai dan terbuka. Ruang makannya luas, dengan sentuhan dekorasi yang terasa patriotik—mengingatkan pada kemerdekaan dan kebanggaan nasional, terutama dengan bendera-bendera kecil yang menghiasi langit-langit, seperti yang terlihat pada gambar. Ini menciptakan vibe yang sangat Malaysia, terasa inklusif, dan sangat cocok untuk keluarga, seperti yang ditunjukkan oleh beberapa pengunjung yang berinteraksi dengan gembira di salah satu foto.

Area "lauk-pauk" atau hidangan prasmanan, yang menjadi fokus utama, tertata rapi dalam bain-marie metalik yang berkilauan. Ini adalah showcase dari kekayaan kuliner yang mereka tawarkan, sebuah kanvas warna dan tekstur yang segera menarik perhatian. Dinding belakang serving station dihiasi oleh mural pemandangan alam—sungai, hutan, bebatuan—yang memberikan sentuhan rustic dan alami.

Papan menu Nasi Beriani Arab Saffron yang terpampang jelas di kaunter adalah indikator bahwa kafe ini tidak hanya terpaku pada menu lokal biasa, tetapi juga merangkul pengaruh kuliner Timur Tengah yang populer di Malaysia. Harga yang tercantum dalam Ringgit Malaysia (RM), seperti RM 25.00 untuk set 2-3 pax dan RM 45.00 untuk set 4-5 pax, menunjukkan fokus pada value set untuk makan bersama, sebuah ciri khas budaya berbagi di kawasan ini.


Membedah Kekayaan Lauk Pauk: Surga Nasi Campur

Inti dari pengalaman bersantap di NI Muzima Cafe adalah sistem Nasi Campur atau Nasi Lauk. Ini adalah format yang paling saya hargai sebagai food blogger karena ia memberikan kebebasan eksplorasi dan menampilkan keahlian dapur dalam berbagai hidangan.

A. Tampilan Prasmanan: Sebuah Pesta Visual

Dari gambar-gambar yang saya amati, pilihan lauk di sini terlihat menggoda dan melimpah ruah:

  1. Gorengan dan Masakan Kering:

    • Ada talam besar berisi hidangan yang nampaknya seperti potongan ikan atau ayam yang digoreng, ditumis dengan bumbu merah yang kaya, cabai hijau, dan irisan daun kari . Ini kemungkinan besar adalah Ayam/Ikan Masak Kicap Pedas atau mungkin Sotong Goreng Kunyit Berlada yang diolah kering. Rasanya, saya berani bertaruh, akan memberikan kick pedas manis yang sempurna.

    • Tepat di sebelahnya, ada hidangan yang terlihat seperti serutan daging atau abon dengan warna merah tua yang pekat . Ini pasti Daging Dendeng atau Serunding Pedas—kaya rasa, sedikit renyah, dan merupakan pasangan abadi bagi nasi putih.

    • Di rak atas, terdapat talam berisi potongan-potongan ayam/ikan goreng yang renyah dan berwarna keemasan . Ini adalah Ayam Goreng Berempah klasik Malaysia, yang aromanya saja sudah pasti menguar ke seluruh ruangan.

  2. Masakan Berkuah dan Kari:

    • Wadah yang lebih dalam di barisan bawah menampilkan masakan berkuah, seperti kari berwarna merah pekat, yang mungkin adalah Kari Ayam/Daging atau Asam Pedas . Kehadiran kuah merah pekat ini menandakan kekayaan bumbu dan penggunaan santan atau cabai kering yang royal.

    • Ada juga wadah yang berisi hidangan berkuah kuning pucat (mungkin Dal atau sejenis kari sayur), dan potongan-potongan putih (kemungkinan nasi impit atau ubi).

B. Hidangan yang Dicicipi: The Real Test

Mari kita analisis beberapa piring yang tersaji, yang mencerminkan pilihan pengunjung:

1. Nasi Putih dengan Ayam Merah Berkuah 

Ini adalah hidangan yang langsung mengingatkan pada Nasi Ayam Merah atau lebih spesifik, Ayam Masak Merah.

  • Ayamnya: Sepotong besar ayam, kemungkinan paha, yang telah digoreng lalu dimasak kembali dalam kuah merah terang.

  • Kuahnya: Kuah Masak Merah ini adalah perpaduan rasa manis dari tomat dan sedikit pedas dari cabai, diperkaya oleh rempah seperti serai dan halia. Konsistensinya terlihat cukup cair, yang ideal untuk meresap ke dalam bulir-bulir nasi.

  • Nasi: Nasi putihnya terlihat terpisah-pisah, menandakan dimasak dengan baik (tidak lembek).

2. Nasi dengan Ikan Kering/Jering dan Sayuran 

Ini adalah piring yang lebih berani dan sangat lokal, menandakan keaslian dapur NI Muzima.

  • Protein/Lauk Utama: Terdapat dua potongan panjang berwarna cokelat gelap, yang kemungkinan besar adalah Terung Belanda atau Ikan Kering (seperti ikan talang) yang dimasak sambal atau mungkin Jering/Petai Masak Sambal yang telah menghitam karena dimasak lama. Pilihan ini menunjukkan variasi lauk yang hardcore dan sangat disukai oleh penggemar makanan Melayu sejati.

  • Sayuran: Sayuran hijau yang ditumis pedas mendampingi lauk tersebut, kemungkinan besar Pucuk Ubi Masak Sambal atau Kangkung Belacan.

  • Sambal Sampingan: Sedikit sambal merah pekat (belacan atau sambal biasa) disajikan di samping, menambah punch rasa.

3. Nasi Putih dengan Ayam Goreng Raksasa 

Ini adalah comfort food universal, terutama bagi mereka yang mencari rasa aman.

  • Ayam Goreng: Sepotong besar ayam goreng tepung, dengan coating yang terlihat renyah dan berbumbu. Ini adalah Ayam Goreng Rangup versi Melayu. Kesederhanaannya adalah kekuatannya. Pilihan yang sangat baik untuk anak-anak atau mereka yang kurang menyukai masakan pedas.

4. Nasi Campur Beraneka Ragam 

Piring ini adalah esensi dari Nasi Campur.

  • Pilihan Lauk: Terlihat potongan daging berkuah merah kecokelatan yang pekat (mungkin Daging Masak Kicap Pedas atau sejenis Sambal Daging) dan sedikit sambal merah sebagai pelengkap. Ada juga sedikit kuah kuning/hijau di sisi nasi.

  • Minuman: Yang paling menarik, piring ini ditemani oleh segelas Teh Tarik yang berbusa tebal (dan satu gelas kosong), diletakkan di atas meja merah yang kontras. Teh Tarik ini adalah penutup sempurna untuk hidangan pedas, dengan rasa manis dan creamy yang memadamkan api sambal.

Verdict Food Blogger 10 Tahun: Jaminan Rasa Lokal

Setelah menganalisis semua visual yang ada, inilah kesimpulan saya sebagai food blogger berpengalaman:

Kekuatan NI Muzima Cafe

  1. Keaslian Rasa Lokal (4.5/5 Bintang): Pilihan lauk seperti Terung/Ikan Kering Sambal dan Daging Dendeng menunjukkan bahwa mereka serius dalam menyajikan hidangan Melayu/Nusantara yang otentik, bukan hanya yang "populer" untuk turis. Ini adalah makanan rumahan yang dimasak dengan cinta.

  2. Porsi dan Value (4/5 Bintang): Porsi nasi putihnya terlihat sangat murah hati, dan sistem Nasi Campur memungkinkan pengunjung untuk mendapatkan hidangan yang sangat memuaskan dengan harga yang terjangkau (mengingat lokasi di KL). Porsi set Nasi Beriani Arab juga menawarkan value yang baik untuk makan berkelompok.

  3. Variasi Lauk (4/5 Bintang): Serving station menunjukkan variasi yang cukup, mencakup masakan pedas, manis, berkuah, dan kering. Ini menjamin bahwa setiap selera dapat menemukan pasangan yang sempurna untuk nasi mereka.

Sentuhan Akhir: Rekomendasi

NI Muzima Cafe adalah destinasi yang wajib dikunjungi bagi siapa pun yang mengunjungi Muzium Negara dan mendambakan hidangan Nasi Campur yang serius. Lupakan kafe-kafe dengan menu internasional yang mahal; di sinilah Anda akan menemukan jiwa makanan Malaysia yang sebenarnya.

Saya sangat merekomendasikan untuk mencoba Ayam Masak Merah mereka (terlihat klasik dan soulful) dan memasangkannya dengan sedikit Serunding/Dendeng untuk tekstur dan rasa umami yang mendalam. Jangan lupa lengkapi santapan Anda dengan segelas Teh Tarik yang frothy itu.

Ini bukan tempat yang mewah, tapi ini adalah tempat yang jujur tentang makanan, dan bagi seorang food blogger, kejujuran rasa adalah mata uang tertinggi. NI Muzima Cafe memberikan pengalaman kuliner yang hangat, meriah, dan yang terpenting, sangat sedap.

P.S.: Jika saya kembali, saya pasti akan memesan Nasi Beriani Arab Saffron. Melihat porsi dan harga set-nya, itu mungkin rahsia besar lain yang tersembunyi di sini!







No comments:

Post a Comment